aku melihat seorang perempuan pendek gelap dekil kumal melangkah gontai. Punggungnya tertekuk, kepalanya menunduk, seperti malas dan lemas. cara jalan yang paling kubenci.
aku bertanya, “mengapa jalanmu seperti itu?” dan dia berkata, “karena aku sedang menyeret bayangku.” “Semua orang juga menyeret bayang mereka, kenapa kau harus bertingkah susah seperti itu?” tanyaku gemas.
Dengan lirih ia menjawab, “aku punya begitu banyak beban, sehingga bayangku menjadi berat,” jelasnya. “Oh begitu…” kataku sambil mengangguk, “aku mengerti, bebanku juga berat kok, hanya saja aku terlalu angkuh untuk mengakui bahwa bebanku terlalu berat.”
Dia lalu balik bertanya kepadaku, “Apa yang kau lakukan untuk meringankan berat bayangmu?” lalu kujelaskan kepadanya bahwa untuk meringankan bebanku aku menulis prosa di Tumblr. “Kenapa kau tidak mencoba mengikuti langkahku?” usulku kepadanya.
“Aku tak bisa, aku tak punya waktu.” katanya. lalu sembari melanjutkan perjalanan ia menyambung, “Aku harus mengerjakan dua terjemahan malam ini.” dalam gumamannya ia menjelaskan. “Aku tidak punya tempat untuk membagi beban ini, jadi lebih baik kukejar saja materi. siapa tahu tidurku akan lebih nyenyak berselimut uang.”